Sabtu, 09 Desember 2017

Menggetarkan Kaki

Menatap layar handphone, sembari menghela nafas panjang. Menandakan bahwa semua tugas untuk besok sudah rangkum diselesaikan. UNtuk itu tibalah waktu yang  memberikan hak kepada mata dan tubuh ini. Mungkin hanya aku yang kelihatannya sibuk dalam tarik dan ulur pesan serta beranda di social media. Seakan panik membalas banyaknya chat kekasih, padahal mah Cuma scroll up dan down album. Iya album foto di handphone yang menjadi salah satu kenangan yang tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Kenangan yang mungkin tidak akan bisa untuk diulang kembali, betapa berharganya setiap detik ketika aku melihat senyumannya yang menggetarkan kaki, eh maksudnya menggetar hati. Wajahnya yang mungkin menurut orang lain biasa saja, namun berbeda dengan mata ini. Selalu ada kenyamanan yang berbeda ketika ku luruskan pandangan ke mata indahnya.

Mulai baper lagi deh ini hati” cetus ku dalam menggerutu. Namun salahkah jika hati yang memiliki rasa ? masa masako aja yang punya rasa ayam, rasa sapi. Aku sebagai manusia biasa yang polos hatinya, juga ingin mempunyai rasa yang di tautkan dalam ikatan. Entah itu ikatan saudara, sahabat, kakak adek, atau mungkin ikatan keluarga, ya semacam keluarga kecil aku dan dia.

Banyak hati yang berusaha menjaga dan meminta hati ini dimiliki oleh salah satu diantara mereka. Banyak juga cara yang membuat hati terkadang goyah hingga hampir membuka hati kembali untuk menerima cinta yang baru. Namun masih saja merasa belum siap untuk bisa mendekap cinta lagi, setelah sakit yang  pernah aku rasakan sebelumnya dikisah cinta terdahulu. Dikhianati bahkan pernah juga terabaikan, entah kenapa dulu hati ini juga bisa dengan mudahnya menerima cinta. Padahal mungkin itu bukan cinta namun perasaan nyaman sesaat saja, yang datang ketika perhatian itu diberikan. Kesalahan ini yang tak ingin ku ulangi, bahwa terlalu cepat membuka hati dan berbisik pada telinga yang salah adalah pilihan yang bisa membuat hati kembali tersakiti.

Namun berbeda dengan hati ini ketika aku pertama kali melihatnya,  duduk di sampingku dan berbicara tentang indahnya malam itu, serta sesekali bertukar pengalaman yang membuat waktu seakan cepat berlalu. Mata ini seakan tidak berkedip dan telinga ini terasa tidak mendengarkan yang lain setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya. Memang tidak semudah itu juga hati ini bergetar, hanya saja rasa yang tiba-tiba muncul ini juga tidak bisa aku hilangkan begitu saja. Perlahan ku merasa ini adalah hal yang biasa dimiliki seorang perempuan jika bertemu dengan orang yang lebih dewasa darinya..

Terlalu singkat jika fikiran ini selalu memikirkannya, pertemuan yang tak disengaja melalui suatu program, hingga akhirnya mempertemukan kami berdua, maksudku kami semua. Ya kami dipertemuakan dalam program spektakuler yang hal ini membuatku masih bermimpi bisa menginjakkan kaki langsung di tanah Conan itu. Setiap hari berusaha ku lupakan dia yang melintas dibenakku, melalui nafas yang ku keluarkan berharap berkurang lah perasaan aneh itu. Melalui nafas yang ku hirup berdoa agar manusia yang ku kagumi ini adalah suatu bentuk kecintaanku pada tuhan, bersykur sudah dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa yang bisa menjadi motivasiku hingga saat ini.

Jika Raditya Dika bilang cinta itu tidak perlu alasan, tapi hari ini ku buktikan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi, tanpa ada hikmah dan alasannya. Siapa yang tak merasa dijaga dan diistimewakan oleh laki-laki yang memprioritaskan Tuhannya ?? Karena setiap siapa saja yang menjaga ibadah dan ingat bahwa suatu kesalahan akan hukum nantinya. Itu adalah hal  istimewa yang ku dapatkan darinya, jarang sekali setiap salam yang diutarakan laki-laki lain bisa sampai menggetarkan hati sekuat ini.

Jika kamu jadi aku, Apakah yang akan kamu lakukan ketika mempunyai rasa, namun keyakinan dalam diri seakan tidak mungkin bersama masih mengganjal ?  Ya, itu lah yang aku rasakan hingga saat ini, merasakan perasaan yang seharusnya tidak mungkin  aku punya, sampai hari ini aku tidak bisa untuk menghilangkannya. Ingin  rasanya ku kutuk perasaan yang tidak ada habisnya ini, lalu ku rasakan kembali aktifitas tanpa perasaan aneh.

Bagaimana mungkin seorang yang bernama Rizal ini, yang karirnya dan kehidupannya sudah bagus, berasal dari keluarga terpandang pula, bisa menyandingkan tangannya denganku. Seorang gadis desa yang tak bisa bergaya layaknya orang kota, Berasal dari keluarga sangat biasa seperti aku ini. Bagaikan langit dan bumi jauhnya perbedaan itu diantara kami. Walaupun anak pertama Presiden Jokowi saja juga menikah  dengan seorang gadis biasa, tapi itu bagiku masih dongeng yang di khusukan untuk anak orang peratama di Indonesia. Lain hal dengan kisah nyata yang ku punya, hanya jatuh ke dalam jurang, yang akan aku rasakan jika terus memiliki perasaan kepada seorang yang jauh tingginya dari ku.

Hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk dia yang selalu jadi alasan mengapa tadahan tangan ini lebih sering ku lakukan, bahwa ada doa yang istimewa untuk seseorang yang tak mungkin bisa aku miliki. Tenang, doa ku baik untuk dia. Jika bukan dia jawaban dari doaku, semoga akulah jawaban dari doanya. Itu pun kalau dia juga berdoa untukku.

Hari ini ku hentikan doa yang terkhusus untuknya, namun  lebih meminta yang terbaik kepada pencipta-Nya. Bahwa tak ada hal yang sia-sia jika dilakukan dengan ikhlas. Memperbaiki diri agar baik lagi semoga bisa di wujudkan, bahwa cinta tidak mesti memiliki. Namun cinta dimulai dari perlakukan yang ikhlas terhadap apa yang telah digariskan sebelumnya. Terimakasih Tuhan, secari kertas ini yang bisa ku tuliskan, bahwa indahnya penciptaan-Mu yang bisa ku temui di dunia ini. Ku berharap ada seorang wanita beruntung lain, yang bisa menghabiskan waktu bersamanya, ya dia laki-lai yang pernah masuk kedalam hati……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar