Menjadi salah satu orang terpopuler
di SMA tidak membuat jalan masuk menuju perguruan tinggi semudah yang dibayangkan.
Beberapa prestasi sudah diraih dan harapan akan diterima disalah satu
universitas yang sangat ia impikan. Bagaimana tidak seorang yang biasa di
panggil Asymo ini selalu mendapatkan respon baik dari teman dan guru-gurunya.
Serta setiap perlombaan yang diikutinya mendapatkan juara. Tidak hanya di kelas
namun juga di luar daerah. Dalam hatinya tertanam tidak ada rasa sulit yang
menghampiri, dan tetap percaya tidak ada yang tidak mungkin.
Selain pintar Asymo juga adalah remaja putri yang sangat baik, mudah
bergaul dengan siapa saja dan hampir seluruh siswa di sekolah tempat ia menunut
ilmu mengenal siapa itu Asymo. Berkat kegigihan dan keteguhannya dalam belajar,
maka ia juga mudah mendapatkan jalur undangan masuk ke salah satu universitas
yang sangat ia inginkan. Betapa sangat bahagianya ketika itu, ia terpilih
menjadi salah satu wanita posisi 4 besar untuk menduduki universitas itu.
Dengan semangat yang luar biasa ia mempersiapkan semuanya dan sangat bangga
akan perjuangannya selama ini. Namun ada saja aral yang melintang, beberapa
wanita populer lainnya tidak menyukai kemenangan yang di raih Asymo. Ini disadari
oleh Asymo ketika melihat hasil kelulusan di Universitas yang seharusnya
tertera nama lengkapnya. Ternyata tak seperti yang dibayangkan, berbanding terbalik dengan apa yang
diharapkan, ya jatuh berderai tetesan dari mata indahnya. Nama yang ia harapkan
tak kunjung ditemukan setelah berulang kali mencari. Hal ini menjadi cambuk
yang sangat luar biasa untuk Asymo, entah apa yang salah pada dirinya kenapa
ada ke mustahilan seperti ini.
Inti masalahnya adalah uang, Asymo hanya memberikan uang pendaftaran tidak
dengan uang jaminan sebesar 5juta rupiah. Jaminan ini berfungsi jika siswa di sekolah ini lulus, maka wajib
untuk mengambil peluang itu, agar
sekolah tersebut tidak di blacklist tahun
yang akan datang. Tak dapat di pungkiri yang seharusnya kolom itu berisi
namanya namun di isi oleh perempuan yang tidak menyukai nya. Rasanya tidak ada
lagi harapan untuk tetap melanjutkan perjuangan, hanya karena uang bisa
menggantikan semuanya. Amarah pun tak tertahan lagi, tangis mengucur deras di
pipi indahnya “kenapa begitu sakit ya
Rabb, Inikah nikmat yang harus aku terima?”.
Memang bukan salah siapa-siapa, Asymo hanya
mempunyai orang tua tunggal yang menjadi tulang punggung untuk keluarga
kecilnya. Yang sejak kecil hanya tinggal bertiga dengan salah satu sepupu perempuan
yang sekolahnya juga dibiayai oleh ibu Asymo.
Untuk
melunasi uang jaminan itu adalah salah satu hal yang sangat sulit untuk
dipenuhi ibunya. Sudah hampir sebahagian uang itu terkumpul dari berdagang di
pasar, sampai mendekati hari pelunasan Asymo tak kunjung bisa melunasi jaminan
tersebut. Namun pihak sekolah juga sudah memberikan keringanan, karena Asymo adalah salah satu siswa yang
aktif dan berprestasi maka dibolehkan untuknya tidak membayar jaminan itu, dan wajib membayar jika Asymo dinyatakan
lulus. Takdir berkata lain, ia tak bisa menduduki posisi menjadi mahasiswa di
salah satu universitas kebanggaannya itu.
Tidak putus harapan, Asymo berjuang lagi untuk
mengikuti beberapa tes di 3 universitas
dengan jurusan yang berbeda. Walaupun dengan harus memikirkan bagaimana
nantinya untuk membayar uang spp setiap semesternya. Dalam hatinya selalu saja
ada rasa tak ingin memberatkan ibu untuk membiayai studinya. Mencari peluang di
daerah tempat tinggalnya ia bekerja menjadi seorang Pramuniaga di salah satu
toko, yang niat utamanya uang itu diberikan untuk ibu. “Manusia apa aku ini, membiarkan orang tua berjuang sendiri. Tidak tega melihat ibu berjualan di pasar ,
membanting tulang hanya untuk membiayaiku hidupku”.
Tak pernah terbayangkan Asymo, namanya tetera pada 3
universitas yang ia daftarkan. Kebahagiaan terpancar di wajah ibunya dan
meminta ia masuk di salah satu universitas itu. Dengan kondisi seperti ini ia
mengurungkan niatnya menjadi mahasiswa. “Asymo
bekerja saja bu, untuk mencukupi semua kebutuhan dan membiayai semua
hutang-hutang kita.” Ucap Asymo dengan berlinang air mata. “Azzahra Asymo, kamu adalah putri ibu yang
pintar. Pergunakan itu untuk membahagiakan. Bukan hanya membahagiakan ibu namun juga orang lain nak. Jadilah orang yang sukses yang
berguna untuk orang banyak” jelas
ibu Asymo.
Tak berfikir panjang peluang ini tidak lagi dibuang
begitu saja oleh Asymo, ia berharap salah satu universitas yang ia pilih ini
adalah tempat ia bisa mengabdikan dirinya juga menjadi seseorang yang
bermanfaat untuk orang lain. Memilih jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas
Islam di Pekanbaru adalah jawaban dari tadahan tangannya setiap malam.
Demi untuk mencukupi spp pertama masuk kuliah ia
harus bekerja siang dan malam di salah satu toko, dan menjadi ojek antar jemput
anak tetangga setiap pagi dan sepulang sekolah. Hal ini selalu dilakukan Asymo
hingga semua uang itu terpenuhi dan ia
pun resmi menjadi mahasiswa. Betapa bahagianya ada jalan lain yang disiapkan
oleh Allah untuk Asymo dan keluarga kecilnya. Walaupun tanpa seorang ayah ia
masih bisa melanjutkan sekolahnya.
Belum selesai cerita pedih yang
dialami Asymo, ia harus merelakan dirinya setiap malam untuk kembali bekerja di
tempat yang berbeda demi memenuhi kebutuhan ia dan ibunya. Selain bekerja di
toko ia juga berjualan di salah satu kantin di kampus itu. Begitu banyak hinaan
untuk dirinya, tak jarang juga ia sering menangis ketika keningnya bersentuhan
dengan sejadah. Ini adalah satu perjuangan terbesar yang harus dilalui Asymo
untuk menjadi sarjana.
Dengan kelembutan dirinya ia mampu
bergaul dengan cepat dengan siapa saja bahkan dengan mahasiswa dari universitas
yang lain, selain itu keahliannya berkomunikasi dengan baik menjadi nilai
tambah dalam dirinya. Bukan hanya cemoohan ia terima, ia juga mendapatkan
respon baik dari teman dan beberpa dosen. Semester pertama ia mendapatkan IP
dengan rata-rata sangat memuaskan. Selain itu semester tahap kedua ia menjadi
salah satu reporter yang bekerjasama dengan salah satu media ternama di daerah
itu. Tidak sampai disitu prestasi yang mengagumkan juga ia dapatkan menjadi
moderator termuda di acara-acara resmi, di dalam dan luar kampus, serta menjadi
salah satu asisten dosen yang sangat ia senangi. Itu tidak pernah terfikirkan
olehnya karna yang ia lakukan adalah untuk membahagiakan ibu dan orang-orang di
sekitarnya.
Anak semata wayang ini menggeluti hari-harinya dengan bekerja dan
menjalani aktifitas sebagai seorang mahasiswa. Banyak rintangan yang harus di
hadapi oleh Asymo. Selain harus meminjam uang untuk semester ia juga harus
pandai menyisipkan hasil keringat untuk membayar uang kontrakannya. Tak jarang
juga garam adalah salah satu lauk yang menjadi santapan lezatnya setiap malam.
Untuk menghemat pengeluaran, salah satu andalan Asymo sejak duduk di bangku SMP
adalah dengan berpuasa, itu menjadi kebiasaannya agar uang yang ia punya bisa
dipergunakan untuk yang lain.
Tidak hanya bekerja namun ia juga aktif di
organisasi kampus, dan dengan niat baiknya ia mendapatkan beasiswa untuk tetap
melanjutkan kuliah. Namun tidak berbangga hati ia masih tetap bekerja untuk
mencukupi kebutuhan ibu dan mengisi tabungannya untuk membeli rumah. Ya salah satu
impian terbesarnya mempunyai tempat berteduh sendiri tanpa harus menyewa dan
ditagih oleh pemilik rumah seperti setiap bulannya. Semua mahasiswa juga
mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda, tapi lain dengan Asymo, ia merasa
dirinya tidak mendapatkan kesulitan namun suatu batu loncatan agar ia semangat
dan mengingatkan ia tidak lupa bersyukur atas apa yang telah ia dapatkan, baik
itu kepedihan juga penghargaan atas apa yang ia lakukan.
Demi mengisi waktu luangnya ia juga memberanikan
diri untuk mengambil pekerjaan di satu tempat pengkopian buku sekitaran
kampusnya, ini dilakukan Asymo ketika jeda waktu masuk perkuliahan. Sembari
menunggu jam kuliah selanjutnya, kekosongan itu di isi dengan bekerja. Salah
satu perempuan yang mampu mengerjakan pekerjaan ini. Sebab kalangan pekerja di
tempat itu mayoritas adalah laki-laki.
Entah bagaimana ia mengatur waktunya untuk bekumpul
dengan teman-teman, belajar, bersenang-senang dan membuat tugas. Semuanya ia
lakukan bak suangai Kampar yang mengalir begitu saja. Banyak yang berfikir
bahwa nilai yang ia dapatkan karena aktifitas yang ia lakukan hanya sekedar
belajar dan belajar. Namun tidak semua yang tercengang ketika mengetahui bahwa waktu
belajar nya adalah ketika dosen menjelaskan, karena baginya ilmu yang mudah
diingat dan lama di memori adalah ketika kita serius dalam menangkap ilmu itu. “Jika saya belajar lagi dirumah, dan
menghabiskan waktu hanya untuk belajar. Nanti saya dan ibu saya tidak bisa
makan. Tidak mungkin hanya sekedar garam yang kami kunyah tanpa nasikan?”. Ucapnya.
Asymo hanya tertawa kecil jika ditanya kapan belajar.
Proses belajarnya dalah ketika perkuliahan, namun
setelah itu ia harus rela membagi-bagi waktunya untuk menghasilkan rupiah demi
rupiah. Ini dilakukannya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, agar tidak
dengan meminta-minta, dan tidak harus menunggu belas kasihan orang lain. Tidak
perlu bersusah payah mengemis perhatian dari keluarga yang notabenen juga
merasakan hidup yang hampir sama.
Lalu bagaimana waktu untuk ia beristirahat? Asymo
juga manusia yang membutuhkan semua itu, ia tidur selama 5jam setiap malam dan
di bantu selepas sholat ketika teman-temannya makan siang, ia menyempatkan
istirahat walaupun hanya 10 menit. Ini menjadi rutinitas yang di lakukan Asymo
sejak sekolah hingga duduk di bangku
perkuliahan.
Wanita berusia 19 tahun ini selain mampu
menyemangati dirinya, ia juga mampu memberikan dampak positif untuk orang-orang
terdekatnya. Berkat ketulusannya dalam bersahabat ia juga selalu mensupport
mereka agar tidak mudah menyerah dan harus bisa melebihi dirinya. Karena
baginya bukan nilai yang selalu menentukan kualitas hidup seseorang, namun
tanpa nilai kita juga tidak bisa mempunyai kualitas untuk mampu membatu dan
berguna bagi orang lain.
Asymo juga wanita biasa yang mampu merasakan jatuh
cinta, tapi baginya cinta yang luar biasa itu nanti bisa dirasakan dengan
nikmat ketika ia telah membahagiakan ibunya. Salah satu semangatnya juga berada
pada satu pria yang juga begitu pintar, dan tampan. Namun harus mengkubur
dalam-dalam perasaan itu, ia hanya mau berjalan di satu jalan untuk ibu dan
bermanfaat untuk orang lain.
Wajahnya memang tidak begitu cantik namun mampu menenangkan,
senyumnya yang begitu manis juga tutur katanya yang begitu lembut, membuat para
lelaki banyak mengintai hatinya. Tidak satu dua orang yang mendekati dan
memberanikan diri menyatakan cinta kepadanya, tapi sudah beberapa laki-laki
yang setiap kali bertemu dengannya merasakan kenyamaman dan ketenangan itu dari
dalam dirinya.
Namun Asymo berpegang pada keteguhannya selama ini
bahwa cinta adalah anugerah yang harus di jaga dengan baik dan di berikan
kepada orang yang berhak untuk di cintai. Bukan berarti mereka yang mendekati
hatinya tidak baik, namun ia hanya menjaga dirinya sebagai seorang muslimah dan
terus memprioritaskan dirinya hanya untuk mewujudkan impiannya selama ini. “Jika benar kamu mencintai, silahkan kita
berjuang dahulu di jalan masing-masing. Kelak jika kita memang di tadirkan
bersama maka kita akan bertemu dengan cara yang sangat luar biasa”. Kalimat
yang selalalu di lontarkan Asymo jika ada laki-laki yang mendekati hatinya.
Perjalanan hidup yang amat pedih ini ia jalani
dengan selalu bersyukur, ia tidak pernah kelihatan mengeluh atas pahitnya hidup
serta selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang
membutuhkan dirinya. Baginya menjadi seorang mahasiswa tidak harus berjalan
mulus, namun karena kerikil-kerikil kecil ini menjadi salah satu warna yang
menyertai setiap langkah di perjalanan hidup yang akan menjadi ingatan indah
nantinya. “Mungkin dengan tersenyum,
beban, tangis, lelah yang ku hadapi terasa ringan dan seakan hilang begitu saja
ketika kita mengingat ada orang yang harus kita bahagiakan”.Baginya
pendidikan tinggi bukan untuk menyaingi kaum laki-laki, namun untuk
menghasilkan generasi yang cerdas dibutuhkan seorang ibu yang cerdas pula- AzzahraAsymotp