Begitu
Berarti...
Suara knalpot, teriakan dan klakson membuat suasana jalan semakin ricuh, ya
beginilah suasana Pekanbaru di pagi hari selalu dipenuhi oleh hiruk pikuk lalu
lalang kendaraan walaupun weekend sekalipun tetap saja kemacetan itu tak pernah
berkurang. Namun sisi lain dalam hati ini terucap satu nama. Yang selalu
menjadi pilihan didalam do’aku.
Annahar.... ya dia laki-laki yang selalu aku fikirkan tiga tahun belakangan
ini. Senyuman yang khas, suara yang merdu, semakin membuat hati terpana akan
dirinya yang sangat sederhana itu. Sering kali aku merasa bahwa dia adalah
satu-satunya laki-laki yang akan menjadi pasangan halalku nantinya. Namun hati juga
mengatakan bahwa ah sangatlah mustahil orang sepertinya bisa denganku. Hubungan singkat yang kami lalui itu
semakin membekas. Ingin sekali aku bertemu dengannya dan mengatakan bahwa
begitu rindunya hati ini, begitu sangat-sangat rindu. Tapi jika seandainya
pertemuan itu datang, takkan mampu bibir ini berkata melainkan akan bungkam
seribu bahasa.
Seandainya diizinkan untuk kedua kalinya, takkan pernah aku meminta agar ia
menemui ku pada malam itu. Begitu bahagia pertemuan singkat itu aku rasakan,
begitu indah awal pertemuan itu sudah sebagai sepasang kekasih. Namun apalah mau dikata, darah sudah menjadi
saksi malam itu, dan jaitan yang membuat mata tak berhenti meneteskan air mata yang
sudah terlanjur membekas.
Yaa.. diawal permulaan hubungan singkat kami harus berakhir dengan
penyesalan dan air mata. Tak ada niat
untuk bertemu, tak ada keinginan akan seperti ini jadinya. Dia datang
dihadapanku dengan celana jeans panjang dan baju kokoh yang menjadi pusat
perhatianku malam itu. Akupun tak sadar
sehingga bisa bertemu dengan sosok sepertinya, ku lingkarkan tangan di
pinggangnya dan aku berkata “salam
kenal”. Dalam perbincangan hangat kami berhenti di satu sorot lampu jalan
sehingga terlihat begitu jelas senyum yang indah, dan rasanya tak sanggup bila
harus terus memandangi wajahnya.
Dinginnya malam seakan membuat kami semakin kaku untuk saling mengutarakan
hati. Namun tiba juga saatnya dipenghujung roda akan membawa kami pulang. Menikmati pertemuan pertama yang baru pertama
aku rasakan, sontak berhenti ketika kendaraan yang kami naiki berhenti total
ditengah jalan. Didalam kegelapan, kami berdua bersama-sama mendorong sepeda motor
yang dipinjam dari temannya itu. “begitu
sangat polos, dan tak ada kata lain selain bahagia” berbisik hati ini
melihat begitu lepasnya senyuman indah itu. Begitu sangat ingat ketika itu
setelah sepeda motor sudah bisa hidup, kami melanjutkan perjalan pulang rumah
kos yang aku tempati.
Sesampainya disana, rasanya tak ingin melepas ia untuk segera
pulang, hati seakan sangat begitu berat untuk melepaskannya. “Narisa, Aku pulang dulu ya.? Jaga diri
baik-baik” terdengar lembut jika keluar dari mulutnya. “hati-hati, jika sudah sampai pondok cepat
kabari ya Ann?”. Ucapku yang sangat mengagumi parasnya.
Laju sepeda motor itu langsung terdengar oleh telingaku. Pukul 04.37 wib
pagi, kegelisahan selalu membayang dihadapan mataku, rasa cemas selalu
menghantui “apakah ia tak mau lagi
bertemu denganku,? Mungkin karena wajah ku yang tak sesuai dengan keinginannya,
atau mungkin saja aku bukan tipe perempuan yang baik untuknya” sembari
melihat pesan singkat chattingan yang telah lalu. Pukul 8 tepat, satu pesan
singkat dan tiga kali panggilan tak terjawab.”Pacar Annahar ya? Semalam dia kecelakaan dan menabrak truk besar.” Tanpa bertanya hati ini seakan retak membaca
pesan singkat itu, tak dapat berkata apa-apa lagi. Sontak menetes lah air di
pipi membahasi wajah. “bagaimana
keadaannya sekarang?” Ketikan pesan itu kukirim segera. “kakinya patah dan sekarang ada dirumah sakit
belum sadarkan diri”.
Subhanallah........ perasaan bersalah seakan mencabik-cabik. Berusaha ku
telphon dan berusaha kukirimkan pesan singkat yang begitu banyak, isinya tak
lain dan tak bukan permintaan maaf dan rasa bersalah. Dua hari kemudian aku
mendapatkan satu pesan singkat yang sangat berarti dalam history hidupku. “maaf ya Nar, malam itu sudah terjadi suatu
tragedi yang membuat tubuh ini tak bisa untuk sesempurna sedia kala. Aku tetap
mencintaimu. Tapi aku malu harus bergandengan dengan seseorang yang cantik
sepertimu. Ketika kaki ini sudah banyak menyemburkan darahnya, kepala ini hanya
tertuju memikirkan kamu. Ketika ku sadar pertama kali yang kuingat hanyalah
kamu, dan pesan singkat yang kubaca pertama kali itu adalah darimu. Sungguh
bercampur aduk rasanya dihati. Perasaan bahagia ada juga perasaan malu karena
sudah berada dalam kondisi seperti ini. Jangan pernah pergi dan jangan pernah
malu ya jika berada denganku nantinya.? Aku sangat mencintai kamu.” Ku rasa tidak pesan singkat tapi perasaan yang
sudah membuat sangat bahagia ketika kubaca.
Berusaha ku temani dan berjanji takkan pernah kutinggalkan dia, yaa...
kekasihku yang sangat aku cintai. Setiap hari layaknya pasangan jarak jauh yang
sudah lama tak pernah bertemu. Lewat dentingan pesan singkat hanya bisa
melepaskan kerinduan, lewat suara kadang tangis menyertai. Begitu tak ada yang
bisa menandingi perasaan yang kami rasakan saat ini. Suatu ketika perbincangan
hangat yang selalu diutarakannya berubah dengan ucapan yang tak pernah
kuharapkan sebelumnya terlontar dari bibirnya.
“Nar, kita berteman saja? Aku tak
pantas dengan kamu, sekarang masih banyak lelaki yang sempurna yang bisa membahagiakan
kamu nantinya. Aku hanya seorang lelaki yang cacat tak bisa berbuat apa-apa.
Semoga jika kita dipertemukan kembali aku sudah dalam keadaan sehat. Ingatlah
orang yang pertama aku cari ketika aku sukses adalah kamu, wanitaku”. Kata
singkat namun mempunyai banyak maksud dan tujuan.
Tak ada kata yang dapat kuucapkan, tak ada yang bisa langsung kuutarakan.
Sejenak aku terdiam “Salahkah aku
mempunyai cinta yang begitu besar kepada salah satu makhluk ciptaanmu rabbku?
Salahkah aku sudah menetapkan pilihan laki-laki yang ku harapkan menjadi imam
dan ayah dari anak-anakku itu adalah dia? Salahkah aku tak bisa memiliki satu
kesempatan untuk selalu bersamanya, apapun kondisinya saat ini ?? Berdosakah
rabb???.
Tangisan itu tak bisa ku pendam lagi. Membucahlah semua yang aku
cita-citakan selama ini, bahagia dalam kejauhan dan berharap hubungan yang
seperti akan membuat kami menemui indahnya mahligainyang halal ternyata
hanyalah angan yang akan terus menjadi mimpi. Berusaha kuterima dengan apa yang
sudah menjadi keputusannya walaupun sudah ku katakan aku menerima dia apapun
kondisinya, bagaimana pun situasinya aku tetap ingin bersama dirinya.
Tapi tangis ini tak mampu jadi senjata memintanya untuk tetap disini.Persahabatn
antara kakak dan adik rasanya lebih baik untuk moment seperti ini. Aku bahagia,
banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari kisah percintaan ini. Banyak yang
harus kuperbaiki, berharap agar nantinya satu laki-laki seperti dia yang
menjadi jodohku tak akan pernah lagi meninggalkanku kembali.
Dan sungguh sangat bangga aku pernah
mencintai laki-laki yang sangat berpegang teguh pada keimanannya, studynya. Ya
dia seorang hafidz Al-Qur’an dan melanjutkan studynya di Sudan, Africa
Conference Hall. Walau tak ammpu menjadi sebagian dari hidupnya, setidaknya
saat ini dia adalah motivasiku untuk tetap berkarir. Hikmah dari hubungan ini
adalah aku lebih leluasa memeberikan cinta dan kasihku hanya untuk Rabbku,
bukan untuk makhluk ciptaan-Nya. Dan tentunya menjalani hidup yang begitu lebih
singkat dari kisah percintaan kami.